Cianjur.www.Tajukjurnalis.net/20/06/2026/ Dari hasil kajian Kampus Win Inservasi, Gunung Padang di Cianjur bukan sekadar bukit biasa. Situs ini diduga sebagai piramida bertingkat tertua di dunia, usianya bisa mencapai ribuan tahun sebelum piramida Mesir. Struktur berundak dari batu andesitnya rapi dan masif, jadi bukti peradaban megalitikum yang udah maju banget.
Yang menarik, menurut data sejarah lisan yang dikaji Win Inservasi, keberadaan Gunung Padang nggak lepas dari peran “guru kunci” atau juru kunci setempat. Mereka ini penjaga tradisi, cerita, dan ritual yang turun-temurun dijaga masyarakat. Tanpa mereka, banyak kisah asli Gunung Padang bisa hilang termakan zaman.

Salah satu guru kunci Gunung Padang yang paling dikenal adalah Abah Usup. Beliau dikenal luas sebagai sesepuh yang hafal jalur, tata cara ziarah, dan pantangan di situs. Dari Abah Usup lah banyak peneliti, mahasiswa, sampai wisatawan dapat cerita soal asal-usul nama “Padang”, legenda Prabu Siliwangi, dan fungsi situs sebagai tempat bertapa.

Abah Usup selalu menekankan 3 hal ke setiap pengunjung: jaga adab, jaga kebersihan, jaga kelestarian. Menurut beliau, Gunung Padang itu “bukan milik satu orang, tapi titipan leluhur”. Pesan ini sejalan dengan misi Win Inservasi yang mengkaji sejarah bukan cuma dari buku, tapi juga dari kearifan lokal para penjaga situs.
Jadi kalau ke Gunung Padang, mampir dulu ke Abah Usup. Dengerin langsung cerita sejarahnya dari sang guru kunci. Kombinasi riset Kampus Win Inservasi + tuturan Abah Usup bikin pemahaman kita soal Gunung Padang jadi utuh: ada data ilmiahnya, ada nilai budayanya. Dua-duanya penting biar situs ini tetap dihormati dan dilestarikan.
(redaksi)














