Bandung, www.Tajukjurnalis.net
/20/06/2026/ Konsistensi dalam menjaga syiar Islam terus dirawat oleh kaum ibu di kawasan Kampung Cigagak, Kelurahan Cisurupan, Kecamatan Cibiru Kota Bandung. Setiap hari Sabtu, Masjid Al-Anshor yang berlokasi di Kp. Cigagak RT 02/RW 06 riuh oleh puluhan jamaah yang hadir untuk menuntut ilmu dalam pengajian rutin mingguan.
Geliat majelis taklim ini memiliki rekam jejak sejarah yang panjang. Kegiatan mulia ini pertama kali diinisiasi oleh (Almarhumah) Hj. Ai Hasanah sejak puluhan tahun silam. Pada awal berdirinya, pengajian digelar secara sederhana di kediaman pribadi beliau. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jamaah, kegiatan ini kemudian dipindahkan ke Masjid Al-Anshor agar dapat
menampung. antusiasme masyarakat secara lebih luas.
Saat ini, kepesertaan majelis tidak hanya terbatas pada warga lokal Cigagak, melainkan telah meluas hingga ke beberapa wilayah sekitar seperti Sekehonje dan Sekedangdeur.
Menuju Insan Kamil dan Menolak Ta’asub
Keberlangsungan pengajian ini tidak lepas dari peran aktif para penggerak utama, di antaranya Ustadz Cecep, Hj. Eka Kartika, Ustadzah Oneng, Ibu Lilis Ika, dan Ibu Annisa Pohan. Mereka bahu-bahu merawat majelis ini dengan visi besar: membentuk jamaah (mustami) menjadi Insan Kamil,manusia yang sempurna di sisi Allah SWT melalui peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan.
Dalam salah satu tausiyahnya, Ustadz Cecep menekankan pentingnya majelis ilmu sebagai benteng moral masyarakat. Ia berharap Majelis Taklim Masjid Al-Anshor dapat menjadi contoh (role model) bagi masjid-masjid lain dalam meminimalisir penyakit hati dan perbuatan tercela di lingkungan sosial, seperti kebiasaan menggunjing (ghibah).
Sesama mukmin adalah bersaudara. Allah SWT mengharamkan kita untuk saling menggunjing, mencela, dan mencari-cari kesalahan orang lain.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa,” ujar Ustadz Cecep menyitir dalil dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 10-13.
Beliau juga menambahkan bahwa umat Islam wajib saling menyayangi, mengasihi, dan tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa.
”Muslim dengan muslim lainnya diharamkan bercerai-berai. Jangan sampai kita lebih mencintai golongan atau kelompok sendiri secara berlebihan daripada nilai-nilai Islam itu sendiri,” tegasnya.
Butuh Dukungan Nyata
Mengingat besarnya dampak positif dari kegiatan ini terhadap pembentukan karakter masyarakat, para pelopor dan jamaah berharap adanya dukungan nyata, baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat luas.
Sebab, disadari atau tidak, pembinaan karakter berbasis iman dan taqwa yang kokoh dari lingkup terkecil seperti majelis taklim tingkat RW inilah yang akan menjadi fondasi utama dalam membawa keberkahan dan kemajuan bagi bangsa dan negara.
Jurnalis: Cj














