www.tajukjurnalis.net, Parepare — Kepemimpinan Tasming Hamid – Hermanto mulai menuai apresiasi dari berbagai kalangan masyarakat. Keduanya dinilai mampu menghadirkan suasana yang lebih sejuk, religius, dan dekat dengan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sosial warga. Pendekatan yang mengedepankan kebersamaan, kedekatan dengan ulama, serta perhatian terhadap kegiatan keagamaan menjadi ciri yang menonjol di awal masa pemerintahan mereka.
Kota yang dijuluki “Kota Cinta” ini pun sedang mengalami satu fenomena sosial yang menarik: sebagian masyarakat mulai merasakan denyut religius yang lebih kuat dalam kehidupan publik sejak kepemimpinan mereka dimulai pada 2025.
Fenomena ini bukan sekadar opini kosong. Ia muncul dari kombinasi kebijakan nyata, simbol keagamaan, dan perubahan atmosfer sosial yang perlahan membentuk persepsi kolektif.
Simbol Agama Mulai Menjadi Wajah Publik Pemerintahan
Salah satu ciri paling terlihat adalah meningkatnya visibilitas kegiatan keagamaan dalam ruang publik pemerintahan.
Program seperti nikah massal gratis, penguatan kegiatan Ramadan, serta kehadiran langsung kepala daerah dalam aktivitas keagamaan menjadi indikator penting bahwa agama tidak hanya berada di ruang privat, tetapi tampil di ruang publik sebagai identitas kota.
Dalam perspektif sosiologi agama, ini disebut institusionalisasi nilai agama, ketika negara hadir aktif memfasilitasi praktik keagamaan masyarakat.
Efeknya tidak sederhana. Ia membentuk persepsi bahwa agama adalah norma sosial yang dominan.
Penguatan Aktor Keagamaan: Dari Simbol ke Struktur
Lebih dalam lagi, bukan hanya acara yang diperbanyak, tetapi juga aktor yang diperkuat.
Pemberian insentif kepada guru mengaji dan pegawai syara’ menjadi langkah strategis. Dalam teori pembangunan sosial, penguatan aktor lokal seperti ini akan memperkuat transmisi nilai ke generasi berikutnya.
Artinya, religiusitas tidak berhenti di panggung, ia masuk ke sistem sosial.
Mengapa Masyarakat “Merasa” Lebih Religius?
Di sini kita masuk ke wilayah yang lebih halus: psikologi sosial.
Perasaan bahwa Parepare “lebih religius” muncul dari tiga faktor utama:
Pertama, efek visibilitas, apa yang sering terlihat akan dianggap sebagai norma.
Kedua, legitimasi kekuasaan ketika pemimpin dekat dengan agama, nilai itu ikut naik derajatnya.
Ketiga, momentum awal kepemimpinan, fase awal selalu menghadirkan energi baru (honeymoon effect).
Jadi, ini adalah kombinasi antara realitas dan persepsi.
Namun, Religiusitas Tidak Bisa Diukur dari Seremoni Saja
Sebuah kota tidak otomatis religius hanya karena banyak kegiatan keagamaan.
Ukuran yang lebih objektif justru ada pada hal-hal yang tidak selalu terlihat:
Apakah kejujuran meningkat?
Apakah keadilan ditegakkan?
Apakah konflik sosial menurun?
Apakah kebijakan lebih amanah?
Jika nilai agama benar-benar hidup, ia akan tampak dalam etika sosial, bukan hanya dalam acara seremonial.
Parepare Sebagai “Laboratorium Sosial”
Dengan jumlah penduduk yang relatif kecil, Parepare menjadi semacam laboratorium sosial yang menarik.
Ia memperlihatkan bagaimana kepemimpinan, simbol agama, dan dinamika masyarakat saling berinteraksi membentuk identitas kolektif.
Apakah ini akan menjadi transformasi jangka panjang atau hanya gelombang sementara, waktu yang akan mengujinya.
Kontras dengan Era Sebelumnya
Perlu dicatat secara objektif, Parepare juga pernah memiliki sedikit identitas religius di masa kepemimpinan Taufan Pawe, bahkan sempat dikenal dengan konsep seolah “Kota Santri” yang menanamkan nilai religius dalam pembangunan kota.
Namun, perbedaan yang dirasakan hari ini oleh sebagian masyarakat bukan terletak pada ada atau tidaknya nilai agama, melainkan pada cara nilai itu ditampilkan dan dirasakan.
Jika sebelumnya religiusitas lebih banyak terintegrasi dalam konsep besar dan pembangunan jangka panjang, maka di era Tasming Hamid – Hermanto, nuansa itu terasa lebih dekat, kasat mata, dan hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di sinilah letak kontras yang sering dibicarakan:
Bukan soal siapa lebih religius,
tetapi bagaimana religiusitas itu hadir, dirasakan, dan mempengaruhi kehidupan sosial warga Parepare hari ini.














