Sampang, tajukjurnalis.net – Pengusiran terhadap terapis asal Jember, Gus Kamil, di Pendopo Trunojoyo oleh wartawan senior bernama Aziz memicu kritik keras. Peristiwa ini dianggap melangkahi kewenangan Bupati Sampang, H. Slamet Junaidi (Abah Idi), sebab kehadiran Gus Kamil sudah melalui jalur resmi atas undangan Bu Juhairiyah, pimpinan pusat IWARI, yang lebih dulu berkoordinasi langsung dengan bupati. Fakta lain menyebut, Aziz bahkan mengaku memiliki kedekatan keluarga dengan Abah Idi, namun pernyataan itu dibantah tegas oleh bupati yang menyatakan tidak mengenalnya sama sekali.
Sikap Aziz menuai kecaman karena dilakukan di ruang resmi pemerintahan dan di depan publik. Tindakan mengusir dengan dalih “menolong” justru menyinggung banyak pihak, terlebih kehadiran Gus Kamil telah mendapatkan restu lingkaran bupati. Publik menilai tindakan tersebut bukan hanya melanggar etika, tetapi juga merusak marwah pendopo sebagai simbol kehormatan pemerintahan. Ketidakbenaran klaim Aziz tentang kedekatannya dengan bupati semakin mempertegas adanya manipulasi kepentingan pribadi di balik aksinya.
Bu Juhairiyah, selaku pimpinan pusat IWARI sekaligus pihak yang bertanggung jawab atas kehadiran Gus Kamil, menegaskan keberatannya. Ia melaporkan kasus ini dan meminta agar aparat segera menangkap Aziz serta mendorong medianya untuk mengeluarkan yang bersangkutan karena dinilai mencoreng profesi pers. Publik kini menyoroti dua hal penting: tindakan wartawan yang melangkahi kewenangan bupati, serta kampanye stigma keliru terhadap pimpinan pusat IWARI. Keduanya menunjukkan bahwa pendopo bukanlah ruang untuk kepentingan pribadi, melainkan tempat yang harus dijaga martabat dan kewibawaannya.
Hairil Anwari














