www.tajukjurnalis.net
Ma….jangan lupa kue sus yang isi nya coklat ma…!!! teriak kakak. Sebelum Tuti menutup pintu gerbang, Siap berburu kue lebaran.” Waduh varian coklat sudah habis bu, tinggal keju dan blue berry.” kata ibu penjual Wah…di mana ku cari lagi, batin Tuti kebingungan. Coba aku di supermarket aja. Tanpa menunda Tuti segera mencari kue sus yang di inginkan anak gadisnya.
Tak butuh lama, semua kue kekinian memenuhi tas belanja Tuti. Ada kue sus, nextar, chocopie, wafer tengo, wafer rollsdan sebagainya. Dengan cekatan menyusun kotak-kotak kue di meja sudut, menyusun sisanya di toples.
Tuti duduk memperhatikan Tia dan Nia menyusun kue. Bayangan puluhan tahun silam melintas di matanya. Saat sebelum hari raya ini, kami membuat semua hidangan lebaran yang akan di hidangkan.
Sepuluh hari sebelum hari raya, kami sudah menyusun kue-kue apa saja yang akan di hidang pada tahun ini ( padahal sering kali cuma itu-itu saja ). Wajik, kembang goyang, kue satu, kue semprong, peyek, rengginang, maksuba dan engkak.
Tapi sekarang maksuba dan engkak sudah berganti dengan black-forest, puding zebra. Zaman sudah berubah, hidangan pun berubah mengikutinya. Tapi kegembiraan menyambut hari raya ( lebaran) tidak pernah berubah.
Menanamkan rasa syukur akan kelebihan rezeki dan berkah kesehatan perlu di tanamkan pada jiwa-jiwa yang bersih (anak-anak kita ) memaafkan akan kesalahan orang yang menyakiti hati kita. Belajar ikhlas menerima apapun yang terjadi, walaupun terkadang hati masih terasa sakit.
Lebaran bukan sekedar berganti baju dengan yang lebih baik. Menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan memberikan hidangan yang terbaik yang di utama. Tapi selalu memberikan yang terbaik.
(edisi terakhir lebaran )
#nopi ( Evi Ridwan )














