www.tajukjurnalis.net,
Kanreapia dikenal sebagai salah satu sentra hortikultura dan pendidikan di dataran tinggi Gowa. Di tengah kemajuan itu, keberadaan MI Darul Istiqamah Kanreapia seharusnya menjadi kebanggaan. Namun belakangan, keluhan tentang gaya kepemimpinan yang dinilai tidak profesional mulai terdengar dari guru, wali murid, dan masyarakat sekitar.
Kritikan ini perlu disampaikan secara terbuka, bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menyelamatkan marwah madrasah.
*Apa yang disoroti masyarakat?*
*1. Kepemimpinan yang minim keteladanan.*
Kepala madrasah seharusnya menjadi yang paling disiplin. Datang paling awal, pulang paling akhir. Jika pimpinan justru sering tidak berada di tempat saat jam efektif, bagaimana guru dan siswa bisa termotivasi?
*2. Manajemen yang tidak transparan dan partisipatif.*
Madrasah yang baik dikelola dengan musyawarah. Program kerja, penggunaan dana BOS dan bantuan, serta pembagian tugas harus dibicarakan bersama. Ketika keputusan diambil sepihak tanpa rapat yang jelas, wajar jika muncul kecurigaan dan perpecahan di internal.
*3. Pembinaan guru yang lemah.*
Beberapa guru honorer di MI yang berjuang dengan ikhlas. Mereka butuh dibina, didukung, dan dihargai, bukan diintimidasi atau dibeda-bedakan. Jika kepala madrasah tidak mampu menciptakan iklim kerja yang aman dan adil, maka kualitas mengajar pasti menurun.
*4. Visi pengembangan madrasah yang stagnan.*
Padahal MI Darul Istiqamah berada di lingkungan yang sangat potensial. Dekat dengan kebun-kebun milenial, potensi wisata edukasi, dan semangat petani muda yang inovatif. Seharusnya madrasah bisa berkolaborasi, membuat program unggulan seperti madrasah tani, tahfidz plus pertanian, atau ekstrakurikuler berbasis lingkungan. Tapi jika pimpinan tidak inovatif, potensi itu akan terbuang.
Kami sebagai masyarakat Kanreapia menaruh harapan besar pada MI Darul Istiqamah. Ini adalah madrasah kita bersama. Oleh karena itu, kami meminta:
1. Kepada *Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gowa* untuk melakukan evaluasi dan pembinaan kinerja kepala MI Darul Istiqamah Kanreapia secara objektif.
2. Kepada *Yayasan / Komite Madrasah* untuk lebih aktif mendengar suara guru dan wali murid.
3. Kepada *Kepala Madrasah* itu sendiri untuk introspeksi diri dan membuka ruang dialog.
Menjadi kepala madrasah bukan sekadar jabatan struktural, tapi amanah moral dan spiritual. Jika amanah itu tidak dijalankan dengan profesional, yang dirugikan bukan hanya satu dua orang, tapi masa depan anak-anak kita di Kanreapia.
Semoga kritik ini didengar sebagai bentuk cinta, bukan kebencian.
*Penulis: Kabiro Gowa






